Pada tahun 1828, Ratu Ranavalona I dari Madagaskar, menggunakan kekuasaannya untuk membunuh semua lawannya dan menjalankan teror, sehingga Ia disebut “Maria Berdarah dari Madagaskar”. Ia menyerang gereja dengan fanatisme seperti yang dilakukan Kaisar Nero. Ia melarang pembaptisan, penyebaran injil, menutup banyak gereja, memerintahkan para misionaris keluar dari Eropa dan melarang bawahannya untuk belajar membaca dan menulis kecuali bagi mereka yang melayani urusan tertentu.
Pada tahun 1835 ia mengajukan tuntutan atas orang Kristen karena beberapa hal, yaitu: mereka menghina penyembahan berhala, mereka selalu berdoa, mereka tidak mau bersumpah, mereka satu pikiran terhadap agama mereka dan mereka menganggap hari Sabat sebagai hari kudus.
Orang-orang Kristen yang dicurigai ditangkap. Sekitar 16.000 orang dinyatakan bersalah terhadap tuntutan ratu. Mereka yang menolak menyembah berhala yang dipuja ratu dirantai dalam kamar bawah tanah atau dibunuh. Karena kefrustasian penguasa yang gila kekuasaan, banyak orang Kristen dibunuh, namun demikian banyak orang percaya baru bermunculan.
Beberapa bulan kemudian orang-orang Kristen menikmati kedamaian. Tetapi pada tanggal 28 Maret 1849, sembilan belas orang Kristen dari keluarga berpengaruh dihuum mati. Lima belas kelompok lainnya dilemparkan dari sebuah tebing dengan ketinggian 45 meter dimana terdapat jurang bebatuan dibawahnya. Patung-patung berhala dibawa ke tebing dan masing-masing korban diikat di atas ngarai tersebut dan mereka ditanyai, “Siapa yang kamu sembah, Kristus atau dewa-dewa milik ratu?”
Setiap orang menjawab, “Kristus!” Saat tali pengikat mereka dipotong, para martir terlepas jatuh. Beberapa martir bernyanyi saat mereka jatuh.
Hanya satu dari 15 orang yang tidak jadi dilemparkan, seorang gadis muda yang dinyatakan gila dan dibuang ke sebuah desa yang jauh. Ia tinggal disana dan membangun sebuah gereja besar dalam komunitas tersebut dan memenangkan saudara-saudaranya bagi Kristus.
Peristiwa kemartiran ini berlanjut sampai tahun 1861 saat si penganiaya meninggal. Penggantinya menyatakan dirinya sebagai orang Kristen. Ia membuka sebuah gereja istana dan menyatakan Madagaskar sebagai sebuah kerajaan Kristen. Pada tahun itu gereja Madagaskar bertumbuh dari 37.000 menjadi 250.000. Sebuah tempat kudus dibangun di dalam istana tersebut dan ratu memerintahkan penulisan pada batu prasasti gereja kalimat berikut:
“Oleh karena kuasa dan kemurahan Tuhan kita Yesus Kristus, saya Ranavalomanjaka, Ratu Madagaskar, membangun Rumah Doa ini…untuk melayani Allah, Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan.
Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
Roma 8:18
(Matius 10:38)
Source : KALOS GBI Taman Firdaus Ministry edisi 03/10, 17 January 2010
0 comments:
Post a Comment
Thanks for your comments...!!!